TAKALAR TOPIK-TERKINI.ID,
Dahulu masih sering kedengaran guru bertindak kasar sama muridnya, melakukan penganiayaan misalnya.
Tetapi beberapa tahun terakhir, kebiasaan seperti itu sudah tidak ada lagi sehingga kalau ada guru yang mencoba melakukan terlebih orang tuanya keberatan maka sang guru tersebut di proses hukum.
Namu demikian masih saja ada guru yang tidak berpikir akan keberatan orang tua jika anaknya disakiti.
Seperti Hj.Martini guru SMAN 2 takalar dengan tega menghukum/menjemur Mei Khumairah muridnya dihalaman sekolah setempat senin 25/8-2025 sampai pingsang.
Beberapa sumber mengatakan, Mei Khumariah kelas 12 IPS 1 SMAN 2 takalar berusaha menghindar dari terik mata hari tetapi takut gurunya lebih kejam lagi, akibatnya bertahan dengan terik mata hari ibarat api sedang melalap rumah hingga korban sampai pingsang.
Kalau dengan penyakit menyerang, biasa saja, kata ayah korban tetapi dihukum di sekolah jadi tontonan ratusan siswa lainnya menjadi persoalan lain terlebih sampai pingsang dianggapnya sebagai upaya menciderai harga dirinya sekaligus yang bersangkutan mengaku di permalukan.
Apalagi pelanggarannya hanya terlambat datang yang menurut Daeng Ta'le tidak memenuhi unsur di jemur sampai pingsang, untung saja nyawanya masih tertolong.
Lagian keterlambatannya bukan di sengaja, melainkan ban sepeda motornya bocor di jalan.
Selain itu kurang lebih 20 berteman mendapat hukuman sama hari itu tetapi ia sendiri di jemur sampai pingsang ditambah ketika menjerit kepanasan, ingin dibantu guru, justru guru itu di bentak Hj.Martini.
Oleh karena korban merasa dipermalukan hingga mengadu kepada orang tuanya tidak mau lagi melanjutkan pendidikan disekolah itu.
Kalau tidak diterima anakta di kasi begitu, silahkan menempuh jalau apa saja, demikian kata orang tua korban menirukan Hj.Martini.
Kanit intel polsek polombangkeng selatan, Hutbah yang menemani orang tua korban, justru tertunduk tak bicara sedikitpun melihat arogansi Hj Martini, kata Abd.Rachman Daeng Ta'le.
Mengetahui putrinya di jemur sampai pingsang, Abdul Rachman Daeng Ta'le, ayah korban mengaku tidak terima hingga menyerahkan kepada penegak hukum.
Kepala UPT SMAN 2 Takalar, H.Abd.Rauf Ampang yang dikonfirmasi hari itu juga 25/8-2025 mengatakan andai dari awal diketahui, tidak mungkin bisa terjadi.
ia lagi mengatakan bahwa Hj Martini sebagai guru BK hanya sebatas membina, tidak sengaja membuat siswa sampai pingsang.
(Red)
Social Header