TAKALAR TOPIKTERKINI.ID--Proyek pembangunan drainase di Lingkungan Kampung Beru, Kelurahan Panrannuangku, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, kini menjadi sorotan tajam warga setempat. Meski baru sekitar satu bulan selesai dikerjakan, kondisi infrastruktur tersebut sudah menunjukkan kerusakan serius dengan titik-titik yang ambruk dan berlubang. Kondisi ini memicu kekecewaan warga yang menilai pengerjaan proyek dilakukan secara asal-asalan tanpa mempertimbangkan kualitas jangka panjang.
Kritik pedas muncul dari salah satu sumber warga yang memantau proses pembangunan. Mereka mengungkapkan bahwa kerusakan diduga kuat akibat spesifikasi teknis yang tidak memadai, terutama pada bagian plat deker. Menurutnya, konstruksi hanya menggunakan satu lapis besi berukuran kecil. Padahal, untuk menahan beban kendaraan seperti truk, seharusnya digunakan dua lapis besi dengan standar minimal ukuran 12 agar bangunan kokoh dan tahan lama.
Berdasarkan data yang dihimpun, proyek drainase ini bersumber dari Pemerintah Kelurahan Panrannuangku dengan volume pekerjaan sepanjang 73,5 meter. Pengerjaan tersebut menelan anggaran sebesar Rp80.480.750 yang bersumber dari Dana Alokasi Umum Specific Grant (DAU SG) Tahun Anggaran 2025. Tingginya nilai anggaran dibandingkan dengan volume pekerjaan yang ada memicu kecurigaan warga terkait adanya dugaan penggelembungan anggaran atau mark-up.
Selain itu kata warga proyek pembuatan drainase dinalai salah tehnik karena air seharusnya mengalir keluar di saluran induk namun air mengalir masuk kepemunkiman sehingga keresahan warga setempat.
Upaya konfirmasi telah dilakukan oleh awak media pada Senin (27/01/2025) untuk menemui Lurah Panrannuangku, H. Amirullah, SE. Namun, yang bersangkutan tidak berada di tempat karena dilaporkan sedang menjalankan tugas di kantor kecamatan. Ketidakhadiran pimpinan wilayah ini membuat warga merasa aspirasi dan keluhan mereka mengenai kualitas infrastruktur belum mendapatkan jawaban resmi yang memuaskan.
Meski demikian, Sekretaris Lurah (Seklur) Panrannuangku, Baharuddin, S.Sos, memberikan keterangan saat ditemui di ruang kerjanya. Baharuddin mengklarifikasi bahwa kegiatan pembangunan yang dianggarkan sebenarnya hanya mencakup pembuatan drainase saja, tidak termasuk bangunan plat deker. Ia juga menambahkan bahwa pengerjaan drainase tersebut diserahkan kepada Kepala Lingkungan Kampung Beru, sementara plat deker yang rusak diklaim sebagai inisiatif mandiri dari warga setempat.
Kesenjangan informasi antara pihak kelurahan dan temuan lapangan ini menambah keraguan masyarakat terhadap transparansi pengelolaan dana DAU SG di wilayah tersebut. Warga berharap pihak berwenang segera turun tangan melakukan audit dan evaluasi terhadap proyek ini agar uang negara yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan justru menghasilkan bangunan yang cepat rusak dan membahayakan pengguna jalan.
Red

Social Header