Breaking News

Urgensi Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal Dan Krisis Naskah Akademik Budaya Polongbangkeng Selatan.

Ruangbicara Oleh Mr. Hams

TAKALAR TOPIKTERKINI.ID--Di tengah arus globalisasi yang bergerak tanpa ampun, generasi muda kita dihadapkan pada ancaman krisis identitas tercabut dari akar peradaban luhur yang telah dibangun oleh para pendahulu kita. 

Pendidikan formal yang seharusnya menjadi benteng pertahanan karakter, sering kali berjalan secara ahistoris terhadap lingkungannya sendiri. 

Seperti misal di Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kab. Takalar,  Sul-Sel, kita berdiri di atas tanah yang sarat akan epik peradaban, namun sayangnya, mahakarya kearifan lokal tersebut perlahan menguap menjadi sekadar dongeng pengantar tidur, kehilangan esensi edukatifnya.

Kekayaan Ikon Budaya sebagai Epik Pendidikan Karakter Secara historis, kebudayaan masyarakat Polongbangkeng Selatan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan alam.

Ikon-ikon budaya masa lalu tidak terlahir dari ruang hampa, melainkan bermanifestasi melalui makhluk-makhluk yang menyimbolkan interaksi ekologis dan sosial, seperti Lipan (Lipang Bajeng) dan Kerbau belang atau Cokoloe. 

Kisah-kisah legenda seperti Cokoloe, Cindea, Bulea, hingga Lipang Bajeng bukanlah sekadar fabel atau mitos mistis belaka. 

Mengambil contoh epik Cokoloe di Desa Lantang, Kec. Polongbangkeng selatan eksistensinya adalah simbol kuatnya hubungan antara manusia dan alam. 

Rangkaian peristiwa sejarah penyembelihan Cokoloe memuat nilai-nilai yang sangat epik untuk pendidikan karakter, karena sarat akan pesan moral tentang pengorbanan, kewajiban menepati janji, dan bagaimana manusia seharusnya memperlakukan makhluk hidup dengan welas asih dan penuh rasa hormat.

Bahkan dalam kacamata ilmu hukum modern dan resolusi konflik, sejarah peninggalan Cokoloe mengajarkan konsep arbitrase yang luar biasa; bagaimana para leluhur menyelesaikan konflik (seperti antara masyarakat Tanrara dan Marusu) dengan mengedepankan perdamaian dan kemaslahatan bersama di atas kerugian material semata. 

Sayangnya, potensi kajian budaya yang merupakan aset pengembangan karakter yang sangat besar ini belum tergali secara maksimal di ruang-ruang kelas.

Kekosongan Naskah Akademik: Titik Kritis yang Terabaikan Inilah akar permasalahan mendasar yang selama ini luput dari perhatian: ketiadaan landasan akademik yang kokoh. 

Selama ini, kita cenderung melestarikan budaya hanya dalam bentuk rutinitas tradisi (seperti ritual Aklammang atau Akdodoro) yang berisiko mereduksi pemahaman generasi muda sebatas pada euforia mistis yang terpisah dari konsep filosofisnya. Untuk mengangkat kearifan lokal ini menjadi muatan kurikulum yang sah (Kokurikuler serta Pembelajaran Lintas Materi), kita tidak bisa hanya mengandalkan warisan tutur.

Dibutuhkan pemenuhan kebutuhan akan Naskah Akademik yang komprehensif. Naskah ini harus mampu:

1.Mendokumentasikan sejarah lokal secara runut sehingga dapat dicerna dengan akal sehat dan logika keilmuan.

2.Mengurai unsur-unsur kearifan dan nilai edukasi secara holistik (meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, dan adat istiadat) yang dapat dipertanggungjawabkan secara historis.

3.Menjadi modul atau bahan pembelajaran resmi, misalnya untuk Projek Penguatan Profil Pendidikan (Kokurikuler serta Pembelajaran Lintas Materi)  di sekolah-sekolah Polongbangkeng Selatan.

Langkah Menuju Restorasi Kurikulum Untuk menyelamatkan jati diri masyarakat Polongbangkeng Selatan sebagai masyarakat beradab, penyusunan kurikulum berbasis kearifan lokal tidak bisa lagi ditunda. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis dan sinergi bersama:

1.Mendorong Pembenahan Kurikulum: Mengintegrasikan bahan pembelajaran yang memuat kisah-kisah bernilai kearifan lokal ke dalam kurikulum sekolah.

2.Mengalokasikan Anggaran Khusus: Mendesak sekolah dan instansi pemerintah desa untuk menyediakan dana, bukan hanya untuk seremonial adat, tetapi secara khusus untuk penelitian dan pembukuan sejarah lokal menjadi naskah akademik.

3.Melibatkan Generasi Muda: Mengadakan lomba karya tulis tentang budaya lokal agar generasi muda dan instansi pendidikan aktif mengkaji aset sejarahnya sendiri.

Kearifan lokal kita adalah rahim yang melahirkan karakter bangsa. Jika kita gagal merumuskannya secara akademis hari ini, kita bersiap melihat generasi esok tumbuh sebagai pohon tinggi tanpa akar yang mudah tumbang oleh badai zaman.

Hams/red

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - TOPIK TERKINI